Saturday, December 1, 2018

Imajinasi

Aku menatap toples dihadapanku. Dibalik dinding kacanya, mengapung di dalam cairan kental kekuningan adalah segumpal sel kanker yang balik menatapku. Selama berjam – jam aku bertanya – tanya apakah gumpalan ini memiliki pikiran sendiri. Tumor otak yang memiliki otak— kedengarannya memang gila. Aku telah membuat dokterku berjanji untuk tidak membuang gumpalan tumor itu. Paling tidak jangan sekarang. Sampai aku punya cukup waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.

Tumor otak sangat sulit untuk dideteksi. Seperti jenis – jenis kanker lainnya, tumor otak dapat dikenali dengan berbagai macam gejala seperti rasa pusing dan sakit kepala, kejang – kejang, bahkan halusinasi. Masing – masing orang mengalami gejala yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak terbatas hanya pada ukuran otak, ukuran dan lokasi tumor itu di kepala, kebiasaan memakai obat – obatan, apakah pasien pernah mengalami cedera di kepala sebelumnya, riwayat kesehatan dan juga faktor keberuntungan. Tumor di kepalaku berada di bagian depan otakku dengan diamater sekitar 1,8 inci seperti yang dikatakan oleh dokter yang memeriksaku. Pacarku Briony beranggapan bahwa 1,8 inci adalah luar biasa besar untuk sebuah tumor.

Tidak ada riwayat kanker di keluargaku dan aku tidak pernah menduga bahwa aku akan terkena kanker. Sejujurnya aku mengira bahwa gejala – gejala yang kualami hanya bersifat sementara saja. Dalam beberapa hal, aku mungkin benar, namun apa yang kualami saat tumor itu masih berada di dalam kepalaku akan mempengaruhiku selamanya.

Gejala awal yang kualami adalah halusinasi pendengaran.

Saat itu aku sedang berbelanja di sebuah Department Store.

“Daun selada itu sepertinya sedang kelaparan.” Aku mendengar seseorang berkata.

Aku mengalihkan pandangan dari pucuk daun selada yang kupegang ke kasir di sebelahku. Wajahnya terfokus pada kain pel yang sedang digunakannya untuk membersihkan lantai.

“Maaf, anda tadi bilang apa?” tanyaku.

Dia menatapku dan aku bisa melihat pantulan wajahku yang tampak kebingungan di anting – anting yang menggantung di hidungnya.

“Apa?” dia balas bertanya.

“Tadi kau bilang apa tentang daun seladanya?” tanyaku lagi.

“Saya tidak bicara apa – apa” dia tampak kebingungan.

“Benarkah?”

“Iya. Pak, apa anda baik – baik saja? Wajah anda sangat pucat.”

“Aku…aku baik – baik saja. Kurasa aku hanya salah de—“

Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, semuanya menjadi gelap saat aku roboh dan pingsan.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri aku bermimpi. Di dalam mimpiku aku sedang berlari dalam kegelapan yang sepertinya tak berujung. Sesuat usedang mengejarku tapi aku tidak tahu apa itu. Sesekali aku akan sekilas melihat mahluk itu. Siluetnya tampak seperti manusia tapi bentuk kepalanya sangat aneh. Akhirnya kakiku mulai terasa terlalu lelah untuk berlari dan aku langsung terkulai lemas dan jatuh ke lantai. Saat aku menoleh untuk melihat siapa yang mengejarku aku mendapati bahwa dia adalah kasir pusat perbelanjaan itu tapi di kepalanya tampak sebuah mulut besar yang dipenuhi oleh gigi. Rahangnya yang besar terbuka lebar dan aku merasa seakan – akan ada ratusan jarum – jarum kecil mengoyak leherku.

Lalu kegelapan kembali menutupiku, digantikan oleh cahaya putih yang membanjiri seluruh penglihatanku. Bunyi langkah kaki monster itu teragantikan oleh bunyi ‘bip bip’ dari mesin yang memonitori detak jantungku. Seorang wanita yang memakai seragam putih dan seorang wanita yang memakai gaun biru berdiri di di kiri kananku.

Wanita berseragam putih itu adalah dokter tentu saja. Dan wanita bergaun biru itu adalah Briony yang wajahnya basah oleh air mata.

Rasa kuatir mereka padaku membuat dadaku terasa sesak. Aku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku baik –baik saja. Bahwa kadar gula di darahku terlalu rendah.

“Itu terjadi lebih sering dari yang kita duga.” Kata dokter itu.

Semua tes pemeriksaan yang dilakukannya tak satupun yang menunjukkan bahwa ada yang salah denganku. Tak seorangpun yang berpikir untuk melakukan tes pemindaian otak jadi mereka mengijinkanku pulang.

Dan sejak hari itu, gejala – gejala yang kurasakan semakin memburuk. Setiap pagi aku terbangun dengan migrain yang membuat tubuhku terasa lemas. Hampir tiap malam aku terbangun dari tidur karena mimisan yang berlangsung selama berjam – jam. Aku berusaha menyembunyikan semuanya dari Briony dan keluargaku dan meyakinkan diri bahwa ini hanya sementara. Aku tidak ingin membuat mereka kuatir dan aku yakin bahwa mimisan dan migrain ku lambat laun akan berhenti juga. Namun kenyataan sebenarnya pelan – pelan menampakkan dirinya padaku. Gejala – gejala yang kualami ditubuhku hanya sebagian kecil dari apa yang kutakutkan. Berikut adalah jurnal yang ku tulis yang berisi tentang gejala – gejala yang ku alami. Aku harus menulis nya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak kehilangan akal sehatku.
31 Desember, Pesta Tahun Baru.

Salah seorang temanku mendatangiku dan berkata,

“Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Aku lalu mengikutinya dan tiba –tiba dia berseru,

“Hey! Aku ingin ke toilet, apa kau bisa memberiku sedikit privasi?”

Dia membantah bahwa dia memintaku untuk mengikutinya. Dan tak ada seorangpun yang mendengarnya berkata demikian.
9 Januari

Briony sedang merapikan tempat tidur malam itu. Aku duduk di kursi dan mengamatinya. Saat dia sedang memasang seprai, sesuatu jatuh dari kepalanya ke atas kasur. Aku hanya melihatnya selama beberapa detik tapi benda itu berwarna kehijauan dan tampak basah. Dia membentangkan seprai keseluruh tempat tidur dan menutupi benda itu. Saat aku bertanya dan membuatnya melepas lagi seprai itu, aku melihat tidak ada apa – apa di atas kasur.
19 Januari

Aku mengunjungi dosen ekonomiku di ruang kerjanya. Kami sedang membahas beberapa soal yang salah ku kerjakan pada ujian terakhir. Saat aku menatap wajahnya, aku melihat seekor lipan menukik keluar dari balik kerah bajunya dan mulai merayap ke lehernya. Aku langsung mundur dengan rasa ngeri luar biasa, membuatku hampir jatuh dari kursiku.

Kelabang itu merayap naik ke dagu dan mulutnya lalu menyelinap masuk ke dalam lubang hidungnya. Dosen ku menatapku dengan kening berkerut dan mencelaku karena bersikap aneh.

30 Januari

Bus yang mengantarku pulang berjalan dengan sangat lambat. Kami terjebak kemacetan ditengah jalan. Saat aku menyandarkan kepalaku ke jendela, aku melihat seorang pria gelandangan sedang berdiri diatas trotoar diluar bus. Dia memegang sebuah kertas yang bertuliskan “JANGAN BERKEDIP, ATAU AKU AKAN MENGHABISINYA”.

Tulisan aneh itu membuatku penasaran dan aku hanya bisa menatapnya selama beberapa saat. Pakaian yang dikenakannya sudah compang camping disana sini, aku bisa melihat bahwa kulitnya dipenuhi oleh debu dan kotoran. Walaupun demikian, wajahnya dihiasi oleh sebuah senyum lebar, dan tatapan matanya tertuju hanya padaku.

Aku mengedipkan mata. Dan saat aku membuka mata lagi, tulisan itu telah lenyap. Sekarang dia sedang memegang garpu daging besar ditangannya. Tatapan matanya yang terbelalak masih tertuju padaku dan tanpa mengalihkan pandangan dia mengangkat garpu itu mendekati lehernya lalu menancapkannya dalam – dalam disitu.

Darahnya megalir deras ke atas trotoar. Aku menoleh ke sekeliling ke arah penumpang yang lain untuk mencari tahu apakah mereka juga sedang melihat pria itu. Tapi semua orang tampak sibuk dengan telepon mereka atau koran yang sedang mereka baca.

Saat aku menoleh keluar bus lagi untuk melihat pria itu, dia sudah lenyap.

Bahkan tak ada ceceran darah sama sekali diatas trotoar.

4 Februari

Briony menelepon saat aku sedang berjalan menuju halte bus. Dia berkata bahwa aku meninggalkan buku Makro – Ekonomi ku di rak dekat dapur. Aku langsung berlari pulang ke apartemenku untuk mengambilnya. Dosenku akan menelanku hidup – hidup kalau aku lupa membawa buku itu lagi. Saat aku tiba dirumah, Briony tidak tampak dimanapun dan saat aku memeriksa riwayat panggilan di teleponku aku mendapati bahwa Briony tidak pernah meneleponku sama sekali pagi itu. Dan buku itu rupanya sudah kubawa di dalam tas ranselku.

16 Februari

Aku mendapati seorang pria berdiri di dalam kamar mandi pagi ini. Pakaian yang dikenakannya tampak koyak disana sini dan dipenuhi oleh noda – noda darah. Dia tersenyum luar biasa lebar dan ada sebuah lubang menganga di tenggorokannya. Pria itu adalah pria yang kulihat menikam dirinya sendiri diatas trotoar. Aku berusaha mengalihkan pandanganku sambil memejamkan mata berulang – ulang kali tapi dia masih tetap berdiri disana. Aku memutuskan bahwa aku tidak bisa mandi hari itu. Kurasa aku sudah mulai kehilangan akal sehatku.

17 – 22 Februari

Pria itu mulai sering muncul dimana – mana. Di dalam kamar tidurku, di dapur bahkan di dalam kelas. Dia hanya berdiri menatapku. Tapi dia bukan satu – satunya. Mayat – mayat lainnya mulai mengikutiku setiap hari. Hari ini aku diikuti oleh seorang gadis kecil yang tulang pergelangannya telah patah sedemikian rupa sehingga menekuk di balik kepalanya.

Kemarin aku melihat seorang pria yang mata dan hidungya tampak seakan – akan sudah disantap oleh binatang buas. Dan sehari sebelumnya aku diikuti oleh seorang wanita tua yang tulang belakangnya telah patah dan membuat tubuhnya membungkuk ke samping.

Mayat – mayat itu berbicara padaku. Tak ada seorangpun yang mendengar mereka kecuali aku. Mereka berbisik di telingaku dan bahkan aku masih bisa mendengar mereka walaupun aku sudah menutupi telingaku. Dari awal sejak aku mulai menulis jurnal ini, mereka sudah menyuruhku melakukan hal –hal mengerikan :

“Bunuh dirimu sendiri.”
“Gorok tenggorokanmu.”
“Tenggelamkan Briony.”
“Tikam Briony”
“Begini lebih baik.”
“Semua orang membencimu.”
“Mereka menertawaimu saat aku tidak ada.”
“Kau tidak berharga. Tidak berharga.”
“Mati Mati Mati Mati Mati Mati.”

Kurasa aku memang benar – benar sudah gila.

Pikiranku benar – benar sudah kacau saat aku menyelesaikan jurnalku. Orang – orang disekitarku terus – terusan bertanya apakah aku baik –baik saja dan bahwa aku tampak sakit. Rasa takut dan cemas berlebihan menggerogoti Kepalaku. Seketika aku berlari keluar rumah dan berusaha menenangkan diri. Saat itu juga Briony datang dan berusaha menenangkanku.....(Bersambung)

No comments:

Post a Comment